Perpustakaan Jantung Pendidikan Murah

Oleh: R. Sbs.
Pepatah mengatakan buku adalah jendela informasi. Lembar demi lembarnya menyimpan kandungan pengetahuan yang mampu menembus lintas generasi. Sayang, minat baca di kalangan masyarakat Indonesia terbilang kecil padahal budaya baca tulis sudah ada sejak zaman pra sejarah yang ditandai oleh beberapa prasati bertuliskan huruf Sansekerta.
Rendahnya minat baca berhubungan erat dengan rendahnya pendapatan per kapita khususnya di Indonesia. Menurut Tri Wahyuni Cipta Ningsih, salah satu pengelola perpustakaan Reader Bug Café, Jl Serma Made Pil, Denpasar, di tengah masyarakat kita muncul ungkapan yang menyebutkan bisa makan saja sudah untung bagaimana bisa beli buku. Sehingga pengembangan perpustakaan menjadi alternatif yang ditawarkan kepada masyarakat. Namun keberadaan perpustakaan sejauh ini di Indonesia dan di Bali khususnya belum mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat akan buku yang bersifat gratis untuk dibaca. Selain itu eksistensi perpustakaan kerap diabaikan sebagian masyarakat. Seakan perpustakaan hanya menjadi tempat mangkal anak sekolah.
Pendidikan kita telah lama meninggalkan peran perpustakaan. Pembelajaran sekolah berjalan tanpa dukungan perpustakaan yang memadai. Padahal perpustakaan selama ini dianggap jantung pendidikan murah bagi rakyat Indonesia. Karena itu menurut Tri Wahyuni Cipta Ningsih kehadiran UU Perpustakaan yang baru merupakan langkah proaktif pemerintah dalam membantu para pustakawan.
Berdasarkan undang-undang itu seluruh lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi wajib memiliki perpustakaan dan mengalokasikan dana minimal 5% untuk biaya operasional. Di lain pihak keberadaan UU Perpustakaan belum disosialisasikan secara merata di tingkat daerah. Buktinya, pengelola perpustakaan swasta ada yang mengaku belum tahu adanya UU Perpustakaan 2007. “Jangan-jangan nanti bisa muncul pungutan liar terhadap perpustakaan swasta,” tegas Aulia Safira S.E dari Reader Bug Café Denpasar.
Hal senada dialami Debby Firmana pustakawan Rumah Buku, Renon Denpasar. Selama ini perpustakaannya berjalan tanpa bantuan dari pihak pemerintah. Buku-buku yang diperoleh merupakan sumbangan dari pihak yayasan, hasil penjualan outlet alat-alat tulis, sumbangan dari luar negeri dan beberapa individu yang peduli terhadap perkembangan perpustakaan. Konsistensi yayasan terhadap arena membaca dan bermain bagi anak-anak jalanan maupun anak-anak sekolah usia 4-12 tahun membuat perpustakaan Rumah Buku tetap bertahan hingga kini. Keberadaan undang-undang sejauh ini dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perpustakaan yang dikelolanya. “Bahkan saya tidak tahu tentang undang-undang perpustakaan yang berlaku di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: